Kamis, 29 September 2011

TUGAS 1 : PERKEMBANGAN E-COMMERCE DI INDONESIA PADA TAHUN 2011

Pada awalnya ketika web mulai terkenal di masyarakat pada 1994, banyak jurnalis memperkirakan bahwa e-commerce akan menjadi sebuah sektor ekonomi baru. Namun, baru sekitar empat tahun kemudian protokol aman seperti HTTPS memasuki tahap matang dan banyak digunakan. Antara 1998 dan 2000 banyak bisnis di AS dan Eropa mengembangkan situs web perdagangan ini.

Perkembangan e-commerce di Indonesia sendiri telah ada sejak tahun 1996, dengan berdirinya Dyviacom Intrabumi atau D-Net sebagai perintis transaksi online. Wahana transaksi berupa mal online yang disebut D-Mall (diakses lewat D-Net) ini telah menampung sekitar 33 toko online/merchant. Produk yang dijual bermacam-macam, mulai dari makanan, aksesori, pakaian, produk perkantoran sampai furniture. Selain itu, berdiri pula tempat penjualan online berbasis internet yang memiliki fasilitas lengkap seperti adanya bagian depan toko (storefront) dan shopping cart (keranjang belanja). Selain itu, ada juga Commerce Net Indonesia. Sebagai Commerce Service Provider (CSP) pertama di Indonesia, Commerce Net Indonesia menawarkan kemudahan dalam melakukan jual beli di internet. Commerce Net.

Bisnis E-Commerce baru-baru ini mulai popular di masyarakat Indonesia. Meskipun pada 3 tahun lalu bisnis ini masih belum begitu dikenal oleh kalangan pengguna internet yang masih belum begitu percaya dengan bisnis dunia maya ini. Selain itu, pengetahuan yang kurang mengenai E-Commerce juga menjadi hambatan perkembangan bisnis. Namun tahun belakangan, bisnis ini mulai berkembang dengan baik. Faktor-faktor yang mendukung perkembangan tersebut antara lain :
  • Pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter yang sangat tinggi
Sosial media merupakan faktor pendukung perkembangan e-commerce di Indonesia yang sangat kuat. Komunitas media sosial bisa menjadi sarana berbagi informasi mengenai kemunculan atau perkembangan sebuah website/situs e-commerce baru.
  • Daya dukung dunia IT
Kemudahan yang diberikan berbagai provider IT dalam memberikan layanan internet berperan penting dalam hal ini. Lokasi tersebar serta fleksible, kualitas akses yang baik, dan harga murah yang dapat dijangkau berbagai kalangan membuat internet bisa dinikmati masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan
  • Pengetahuan generasi muda tentang dunia maya yang meningkat
Para generasi muda memiliki kemampuan adaptasi perkembangan IT yang baik. Mereka aktif mengikuti perkembangan dunia internet.

Jumlah penjual dan pembeli online di Indonesia memang terus meningkat dari waktu ke waktu. Dari pantauan cepat, DTO memperkirakan bahwa jumlah penjual online dan pengguna internet lain adalah 1:500 orang, atau 1 orang merchant setiap 500 orang pengguna internet. Asumsi ini tentu dapat menjadi tolok ukur lain potensi e-commerce di Indonesia yang masih menyisakan peluang besar.

Mengutip Detik.com, Chairman Sharing Vision Dimitri Mahayana dari Lembaga Riset Telematika Sharing Vision menyatakan bahwa perdagangan melalui internet di Indonesia pada 2009 telah mencapai 3,4 juta dolar atau setara dengan Rp 35 triliun. Jumlah ini tentu sebuah angka fantastis yang menunjukkan potensi besar dari sistem e-commerce di Indonesia.

Bisnis E-Commerce ini memang mulai diminati di Indonesia. Banyak pengguna internet yang mulai berani melakukan transaksi dalam bisnis ini. Hal ini karena bisnis ini memiliki keunggulan dari pada model bisnis yang lama, antara lain :
  • Unsur kemudahan. Calon pembeli tidak harus pergi ke banyak tempat untuk membeli barang. Transaksi dapat dilakukan di mana saja.
  • Rentang variasi yang tidak terbatas, sehingga barang yang mungkin sulit dicari di toko konvensional bisa ditemukan di e-commerce.
  • Kemungkinan melakukan pemilihan dan perbandingan secara langsung. Pembeli bisa mencari suatu barang dengan spesifikasi tertentu alu membandingkannya aengan penawaran lain dari penjual lain atau antar sesama toko online.
  • Harga yang biasanya bersaing, bahkan jauh lebih murah daripada jika membeli di toko konvensional
Inti dari seluruh hal tersebut adalah bahwa e-commerce itu betul-betul memudahkan konsumen. Karena itu, jika mall sebagai tempat belanja konvensional memberikan nilai tambah seperti adanya lahan parkir yang luas atau sarana hiburan penunjang lain agar konsumen merasa nyaman, maka toko online dapat memberikan service tambahan berupa kecepatan delivery yang andal agar konsumen tidak kapok berbelanja di tokonya.
Sedangkan keunggulan bisnis ini bagi penjual adalah :
·         Biaya promosi yang lebih murah dan efisiensi
Biaya yang dikeluarkan dalam hal promosi di bidang ini lebih kecil dari pada usaha konvensional lain.
·         Efisiensi ruang dan waktu
Bisnis ini bahkan tidak memerlukan showroom atau toko. Produk bisa ditampilkan di website usahanya tanpa perlu memajangnya di sebuah toko.
·         Pengetahuan mengenai kondisi pasar dan pesaing
Dengan kemampuan internet, akses data mengenai kondisi pasar trend produk bisa diketahui. Begitu juga mengenai kondisi pesaing dapat dilihat dengan cepat.
·         Luas pasar yang sangat besar
Para pengguna internet bukan hanya secara lokal, bahkan internasional. Sehingga jumlah konsumen yang berpotensi juga akan meningkat.

Dalam perkembangan E-Commerce di Indonesia, banyak pengusaha kecil dan wirausahawan ikut andil dalam bisnis ini. Pasalnya dalam bisnis ini investasi yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Selain itu, lingkup pemasaran produknya bisa jauh lebih luas dan biaya penyelenggaraan serta promosi pada E-commerce juga lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya pada sitem toko konvensional.

Pemerintah Indonesia dalam hal ini kurang begitu memperhatikan perkembangan bisnis ini. Meskipun begitu Danny Wirianto mengungkapkan sebuah fenomena yang diperhatikannya, bahwa orang Indonesia mempunyai daya struggle yang tinggi. Menurutnya, seandainya pemerintah Indonesia tidak mendukung dalam hal infrastruktur, maka publik akan cenderung "berusaha sendiri", entah bagaimana caranya bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Konteks bisnis e-commerce di Indonesia kini sebagai keadaan masyarakat yang chaos sehingga orang cenderung untuk survive dengan secara aktif mencari cara agar tetap bisa hidup.

Masalah yang sering ditemui dalam E-Commerse ini adalah dalam hal pembayaran. Jika di luar negeri kebanyakan orang berbelanja online menggunakan credit card, di Indonesia konsumen online masih lebih memilih menggunakan transfer antar bank atau cash on delivery. Masih ada ketakutan konsumen menggunakan credit card karena khawatir data-data dapat disadap. Cara pembayaran yang paling banyak saat ini adalah dengan cara transfer antar bank. Cara pembayaran tunai ketika barang datang atau COD sudah mulai menurun, sementara dengan credit card tetap sedikit. Di Kaskus pembeli percaya untuk mentransfer uang ke rekening penjual secara individu karena brand Kaskus sudah terpercaya.

 Sumber Pustaka :

SAYA MENYATAKAN TULISAN INI BUKAN PLAGIAT!!

Zuhdi Kurniawan (0910220200)
Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar