Pada awalnya ketika web mulai terkenal di
masyarakat pada 1994, banyak jurnalis memperkirakan bahwa e-commerce akan
menjadi sebuah sektor ekonomi baru. Namun, baru sekitar empat tahun kemudian
protokol aman seperti HTTPS memasuki tahap matang dan banyak digunakan. Antara
1998 dan 2000 banyak bisnis di AS dan Eropa mengembangkan situs web perdagangan
ini.
Perkembangan e-commerce di Indonesia sendiri
telah ada sejak tahun 1996, dengan berdirinya Dyviacom Intrabumi atau D-Net
sebagai perintis transaksi online. Wahana transaksi berupa mal online yang
disebut D-Mall (diakses lewat D-Net) ini telah menampung sekitar 33 toko
online/merchant. Produk yang dijual bermacam-macam, mulai dari makanan,
aksesori, pakaian, produk perkantoran sampai furniture. Selain itu, berdiri
pula tempat penjualan online berbasis internet yang memiliki fasilitas lengkap
seperti adanya bagian depan toko (storefront) dan shopping cart (keranjang
belanja). Selain itu, ada juga Commerce Net Indonesia. Sebagai Commerce Service
Provider (CSP) pertama di Indonesia, Commerce Net Indonesia menawarkan
kemudahan dalam melakukan jual beli di internet. Commerce Net.
Bisnis E-Commerce baru-baru ini mulai popular di
masyarakat Indonesia. Meskipun pada 3 tahun lalu bisnis ini masih belum begitu
dikenal oleh kalangan pengguna internet yang masih belum begitu percaya dengan
bisnis dunia maya ini. Selain itu, pengetahuan yang kurang mengenai E-Commerce
juga menjadi hambatan perkembangan bisnis. Namun tahun belakangan, bisnis ini
mulai berkembang dengan baik. Faktor-faktor yang mendukung perkembangan
tersebut antara lain :
- Pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter yang sangat tinggi
Sosial media merupakan faktor
pendukung perkembangan e-commerce di Indonesia yang sangat kuat. Komunitas
media sosial bisa menjadi sarana berbagi informasi mengenai kemunculan atau
perkembangan sebuah website/situs e-commerce baru.
- Daya dukung dunia IT
Kemudahan yang diberikan berbagai
provider IT dalam memberikan layanan internet berperan penting dalam hal ini. Lokasi
tersebar serta fleksible, kualitas akses yang baik, dan harga murah yang dapat
dijangkau berbagai kalangan membuat internet bisa dinikmati masyarakat
Indonesia dari berbagai kalangan
- Pengetahuan generasi muda tentang dunia maya yang meningkat
Para generasi muda memiliki
kemampuan adaptasi perkembangan IT yang baik. Mereka aktif mengikuti
perkembangan dunia internet.
Jumlah penjual dan pembeli online di Indonesia
memang terus meningkat dari waktu ke waktu. Dari pantauan cepat, DTO
memperkirakan bahwa jumlah penjual online dan pengguna internet lain adalah
1:500 orang, atau 1 orang merchant setiap 500 orang pengguna internet. Asumsi
ini tentu dapat menjadi tolok ukur lain potensi e-commerce di Indonesia yang
masih menyisakan peluang besar.
Mengutip Detik.com, Chairman Sharing Vision
Dimitri Mahayana dari Lembaga Riset Telematika Sharing Vision menyatakan bahwa
perdagangan melalui internet di Indonesia pada 2009 telah mencapai 3,4 juta
dolar atau setara dengan Rp 35 triliun. Jumlah ini tentu sebuah angka fantastis
yang menunjukkan potensi besar dari sistem e-commerce di Indonesia.
Bisnis E-Commerce ini memang mulai diminati di
Indonesia. Banyak pengguna internet yang mulai berani melakukan transaksi dalam
bisnis ini. Hal ini karena bisnis ini memiliki keunggulan dari pada model
bisnis yang lama, antara lain :
- Unsur kemudahan. Calon pembeli tidak harus pergi ke banyak tempat untuk membeli barang. Transaksi dapat dilakukan di mana saja.
- Rentang variasi yang tidak terbatas, sehingga barang yang mungkin sulit dicari di toko konvensional bisa ditemukan di e-commerce.
- Kemungkinan melakukan pemilihan dan perbandingan secara langsung. Pembeli bisa mencari suatu barang dengan spesifikasi tertentu alu membandingkannya aengan penawaran lain dari penjual lain atau antar sesama toko online.
- Harga yang biasanya bersaing, bahkan jauh lebih murah daripada jika membeli di toko konvensional
Inti dari seluruh hal tersebut adalah bahwa
e-commerce itu betul-betul memudahkan konsumen. Karena itu, jika mall sebagai
tempat belanja konvensional memberikan nilai tambah seperti adanya lahan parkir
yang luas atau sarana hiburan penunjang lain agar konsumen merasa nyaman, maka
toko online dapat memberikan service tambahan berupa kecepatan delivery yang andal agar konsumen
tidak kapok berbelanja di tokonya.
Sedangkan keunggulan bisnis ini bagi penjual
adalah :
·
Biaya promosi yang lebih murah dan
efisiensi
Biaya
yang dikeluarkan dalam hal promosi di bidang ini lebih kecil dari pada usaha konvensional
lain.
·
Efisiensi ruang dan waktu
Bisnis
ini bahkan tidak memerlukan showroom atau toko. Produk bisa ditampilkan di
website usahanya tanpa perlu memajangnya di sebuah toko.
·
Pengetahuan mengenai kondisi pasar
dan pesaing
Dengan
kemampuan internet, akses data mengenai kondisi pasar trend produk bisa
diketahui. Begitu juga mengenai kondisi pesaing dapat dilihat dengan cepat.
·
Luas pasar yang sangat besar
Para
pengguna internet bukan hanya secara lokal, bahkan internasional. Sehingga
jumlah konsumen yang berpotensi juga akan meningkat.
Dalam perkembangan E-Commerce di Indonesia,
banyak pengusaha kecil dan wirausahawan ikut andil dalam bisnis ini. Pasalnya
dalam bisnis ini investasi yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Selain itu,
lingkup pemasaran produknya bisa jauh lebih luas dan biaya penyelenggaraan
serta promosi pada E-commerce juga lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya
pada sitem toko konvensional.
Pemerintah Indonesia dalam hal ini kurang
begitu memperhatikan perkembangan bisnis ini. Meskipun begitu Danny Wirianto mengungkapkan
sebuah fenomena yang diperhatikannya, bahwa orang Indonesia mempunyai daya
struggle yang tinggi. Menurutnya, seandainya pemerintah Indonesia tidak
mendukung dalam hal infrastruktur, maka publik akan cenderung "berusaha
sendiri", entah bagaimana caranya bisa mendapatkan apa yang mereka
inginkan. Konteks bisnis e-commerce di Indonesia kini sebagai keadaan
masyarakat yang chaos sehingga orang cenderung untuk survive dengan secara
aktif mencari cara agar tetap bisa hidup.
Masalah yang sering ditemui dalam E-Commerse
ini adalah dalam hal pembayaran. Jika di luar negeri kebanyakan orang
berbelanja online menggunakan credit card, di Indonesia konsumen online masih
lebih memilih menggunakan transfer antar bank atau cash on delivery. Masih ada
ketakutan konsumen menggunakan credit card karena khawatir data-data dapat
disadap. Cara pembayaran yang paling banyak saat ini adalah dengan cara
transfer antar bank. Cara pembayaran tunai ketika barang datang atau COD sudah
mulai menurun, sementara dengan credit card tetap sedikit. Di Kaskus pembeli
percaya untuk mentransfer uang ke rekening penjual secara individu karena brand
Kaskus sudah terpercaya.
Sumber
Pustaka :
SAYA MENYATAKAN TULISAN INI
BUKAN PLAGIAT!!
Zuhdi Kurniawan (0910220200)
Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis